Jika takdir kita tidak berujung pada garis yang sama.
Maka aku akan tetap mencintaimu tanpa nama.
Membakar seluruh karma
JT - Mirrors
beberapa bulan terakhir ini emosiku sangat fluktuatif.
aku senang dan tiba-tiba air mata merusak tawaku dengan tanda tanya.
kurasa mencintaimu adalah penyebabnya.
hei, tangis ini bukan karena tak bahagia, justru karena terhisap lautan ke pusaran tanda tanya.
kamu, adalah ruang hampa udara dan aku melayang-layang didalamnya.
Nirina - hari ini esok dan seterusnya
Drew - Like I Always Do
Kepadamu,
Barangkali kita baru saja memperingati perayaan mengenai hari kita, hari tentang sebuah komitmen mulai kita sepakati untuk dijalani. Jika kamu lupa aku ingin menjadikan tulisan ini sebagai pengingat, mari kuajak memutar waktu sejenak mumpung jejaknya masih tampak.
Apa itu komitmen? Tak ada satu pun dari kita yang tahu di usia yang masih muda dulu. Yang kita tahu hanya menjalani tanpa tendensi sambil menduga-duga apa yang akan kita hadapi di masa depan.
Aku ingin mengutip kata-kata Ambroce Bierce, “Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di bawah matahari, yang ada hanyalah hal-hal lawas yang belum kita ketahui.”, barangkali dia benar, karena cinta adalah hal yang lawas, hal teramat kuno yang muncul dalam peradaban.
Tapi aku senang mencintaimu dengan mengingat-ingat hal lawas yang pernah kita lalui -sampai hari ini- dan aku bersyukur karenanya, sebab hal-hal tersebut menjadi energi tersendiri yang memperbaharui cintaku. Juga dengan perdebatan kecil kita tentang siapa yang lebih mencintai siapa di antara kita.
Tahun demi tahun kita lewati dan tentu kita tahu bahwa tidak ada yang mudah dari setiap perjalanan. Pertengkaran, tentang ketidakmampuan kita menghadapi rasa cemburu atau hal-hal lain yang berasal dari perbedaan pola pikir antara laki-laki dan wanita. Tentu saja kadang lelah, kadang jenuh walaupun akhirnya kita butuh waktu untuk tenang, butuh waktu untuk menang mengalahkan lelah dan jenuh.
Dan akhirnya, tibalah kita di sini setelah lama berjalan. Terima kasih karena telah mengijinkanku untuk menemani dan terima kasih pernah ikhlas menemaniku sampai saat ini, menghadapi keras kepalaku yang tidak ingin aku bandingkan dengan batu.
Dan tak ada yang ingin aku selesaikan hari ini, surat ini akan kubiarkan bersambung. Tak ada yang akan tamat, sebab aku menginginkanmu melebihi hari ini.
Mari genggam tanganku dan kembali kutemani mendaki. Jika lelah kita akan istirahat bersama, jika jenuh kita akan kembali mengingat bagaimana perjuangan kita hingga di titik ini. Aku mencintaimu demi segalanya yang tercatat rapi dalam ingatan.
Tertanda,
laki-laki yang 6 tahun pernah mengisi hari mu
Entah hasratku ingin menulis sangat besar hari ini, saat aku menulis ini aku sedang mendengar katty perry - unconditionally. Ya, lagu yang kamu beri pada ku.
I miss you so much my silly
Meskipun kamu nyakitin aku tapi masih ada rasa yang tidak pernah hilang, apa? Sayang aku ke kamu.
Life is so unfair sometimes..
Semestinya cinta tak mengenal beda.
Bila dalam beda, rasa menjauhkan jiwa yang didamba.
Kita akan selalu bersama, mengabaikan beda karena Tuhan satukan kita dalam cinta.
Nyatanya beda menjadi jurang pemisah hebat tuk rasa bernama cinta. Senyata rasa yang mati bersama beda, Tuhan tak berikan sabda-Nya.
Aku mencintaimu, tempat pertama kali kulihat-Nya nyata. Bagaimana bisa berpisah dengan cahaya-Nya yang tercitra padamu?
Abstraksi cinta terkontaminasi garis prinsip keimanan. Cahaya-Nya adalah entitas cinta. Tak terelakan, beda di depan mata.
Hakikat iman adalah percaya, aku percaya cinta adalah kekuatan yang menyatukan bukan memisahkan.
Kau memeluk salib saat ayat quran kulantunkan dalam untaian doa untuk cinta. Ketika beda begitu nyata. Dimana percaya harus berada?
Aku bersujud, kamu berlutut. dalam nama Tuhan cinta kita bertemu, berharap takdir bertaut. Aku percaya doa-doa akan nyata.
Tuhan selalu satu, mengapa beda begitu mengganggu? Gemuruh risau tak kan bersatu, kemana ku harus mengadu?
Jika beda jadi alasan kita tidak bersama maka aku bukanlah umat-Nya. Yang aku tahu Ia adalah sumber segala cinta.
Sadarlah sayang, beda begitu pekat nyatanya. Memberi jarak, menyulitkan. Beda tak kan ada bedanya saat iman tak saling menguatkan.
Aku bukan nabi yang selalu benar. Salah adalah hal paling mungkin dalam cinta. Namun inginku sederhana, merasa cinta yang nyata.
Cinta kita nyata adanya, senyata beda yang terasa. Tanyakan pada semesta, dimana ruang yang tak mengenal beda?
Aku mengenal cinta sebagai apa yang dirasa. Bila beda jadi halangan, aku lebih baik hidup dalam kesendirian.
Haruskah beda menjadi alasan tuk perpisahan? Sesak kurasa tak lagi bisa bertahan, dalam kesunyian meronta dalam perbedaan. Ini kehampaan.
Kita tak perlu berpisah karena cinta adalah anugerah. Jika agama tidak dapat satukan, biar semesta jadi saksi sebuah pertautan.
Biar semesta satukan apa yang agama tak dapat lakukan. Satukan cinta kita kehadapan yang Maha Kuasa. Entah bernama apa, bukankah tetap sama?
Sedalam itulah aku mencintaimu, dengan doa yang tak pernah absen menyebutmu saat diam

Sepasang mata itu masih menatap saya tajam. Seakan-akan menghakimi kalau semua ini salah saya. Perbuatan saya. Kebodohan saya. Bah! Itu semua bohong besar. Bukan hanya saya yang menginginkan ini, bahkan sedikit pun saya tidak mau!
Saya mohon percayalah.
Semakin saya memelas, tatapannya semakin menusuk. Seakan-akan semakin saya jujur, mata itu semakin tidak percaya. Padahal saya tahu, jauh dalam lubuk hatinya ia percaya kalau semua ini bukan kemauan saya. Saya percaya, kalau ia percaya pada semua yang saya katakan. Saya perjelas semuanya dengan bukti, tapi ia belum berucap kalau saat ini ia percaya.
Ia bilang kalau saya telah mengoyak kepercayaannya. Entah untuk yang keberapa kalinya, begitu ia menambahkan. Ia juga bilang dengan nafsunya kalau ia sudah tidak mau kenal saya lagi. Ia yakin kalau banyak di luar sana yang lebih baik dari saya.
Ah! Sok tahu benar ia!
Saya tahu ia masih mentah. Baru juga besar. sok mengerti tentang kehidupan. Tak ada yang mampu mencintai dan melindungi ia sehebat saya. Yang lainnya, hanya mau menjadikan ia sebagai trophy. Yaahh..paling tidak menjanjikan kebanggaan semu. Bukan pemilik hati mereka.
Tapi, saya pun masih tahu diri. Saya masih punya harga diri. Walau saya mencintainya, bukan berarti diri saya dapat diinjak seenaknya. Dilecehkan. Direndahkan. Dihina. Apalagi sama anak seperti ia!
Saya masih di sini hanya mau menemani ia. Saya masih ingin menjaga, walau saya tahu ia tak mau saya di sini. Tapi ia terlalu rapuh untuk menanti pahlawan baru yang datang.
Lama kami hanyut dalam kesunyian. Masing-masing sibuk dengan prasangka dalam hati. Hipotesis kini terbentuk dalam memori otak.
Tak lama kendaraan mewah itu datang. Saya tahu yang di dalam sana ingin membawa ia pergi. Katanya, ia merasa tersanjung dengan orang di dalam sana. Biar saja. Saya mau lihat bagaimana jadinya.
“Aku pergi dulu”, kata ia.
Tanpa senyum. Tanpa “dadah”. Tanpa lambaian tangan. Bahkan tanpa air mata.
Rata.
Datar.
Tanpa kesan.
“Take care, sayang”, balas saya melepasnya pergi. Merelakan ia menghampiri seseorang di dalam sana. Seseorang yang bisa menyanjungnya